KONSEP PEMBELAJARAN MATEMATIKA DAN IPA
DALAM BAHASA INGGRIS (BILINGUAL)
DI INDONESIA
Pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris adalah
pembelajaran yang materi pelajaran, proses belajar mengajar, dan penilaiannya
menggunakan bahasa Inggris. Program ini dikenal dengan Bilingual. Pembelajaran
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris ini tetap menggunakan
kurikulum nasional yang berlaku dengan menggunakan pendekatan pembelajaran
kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL). Dengan demikian,
pengembangan silabus, pengembangan sistem penilaian, dan perangkat pembelajaran
lainnya juga mengacu pada kurikulum tersebut. Namun demikian, sekolah dapat
menambah, memperluas, dan memperdalam kurikulum yang berlaku sesuai dengan
perkembangan kurikulum internasional dalam bidang Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam dengan tetap memperhatikan nilai-nilai dan budaya Indonesia.
Pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris bertujuan
untuk:
- Menghasilkan lulusan yang
memiliki kompetensi yang tinggi dalam Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
sesuai dengan perkembangan ilmu-ilmu tersebut.
- Menghasilkan lulusan yang
memiliki kemahiran berbahasa Inggris yang tinggi.
- Meningkatkan penguasaan
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris sesuai dengan
perkembangan internasional.
- Meningkatkan kemampuan daya
saing secara internasional tentang Ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
sebagai ilmu dasar bagi perkembangan teknologi (manufaktur, komunikasi,
transportasi, konstruksi, bio dan energi).
- Meningkatkan kemahiran
berbahasa Inggris siswa.
- Menempatkan Indonesia dalam
posisi perkembangan internasional terdepan di bidang Matematika, Ilmu
Pengetahuan Alam, informasi, dan teknologi.
C. Komponen Pokok Pengembangan Pembelajaran Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam Bahasa Inggris
|
Penting untuk di jelaskan tentang kategori sekolah apa saja yang layak /harus
melaksanakan kegiatan ini, misalnya sekolah-sekolah rintisan SBI (bersifat wajib),
LSN (sesuai kemampuan sekolah), dan sebagainya.
Pada dasarnya, pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam Bahasa Inggris
menggunakan pendekatan sistem sehingga sekolah dipandang sebagai sebuah sistem.
Sekolah sebagai sistem tersusun dari komponenkomponen baku yang saling terkait
untuk mencapai tujuan dengan mempertimbangkan konteks, input, proses, output,
dan outcome.
Konteks adalah unsur eksternal dari sekolah yang berpengaruh terhadap penyelenggaraan
pendidikan dan karenanya harus diinternasilasikan ke sekolah. Sekolah yang mampu
menginternalisasikan konteks ke dalam dirinya akan membuat sekolah sebagai
bagian dari konteks dan bukannya mengisolasi darinya. Konteks meliputi kemajuan
Iptek, nilai dan harapan masyarakat, dukungan pemerintah serta Dinas Pendidikan
baik Provinsi maupun Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, tuntutan globalisasi dan
otonomi, tuntutan pengembangan diri, dan sebagainya.
Input
adalah segala hal yang diperlukan untuk berlangsungnya proses. Input yang
dimaksud meliputi harapan sekolah (visi, misi, tujuan), kurikulum, ketenagaan,
peserta didik, sarana dan prasarana, dana, peraturan perundang-undangan termasuk
regulasi sekolah, struktur organisasi yang disertai deskripsi tugas dan fungsi,
dan sistem administrasi.
Proses adalah kejadian berubahnya input menjadi out put. Sesuatu yang diperlukan untuk
berlangsungnya proses disebut input dan hasil dari suatu proses disebut output.
Dalam pendidikan berskala mikro (sekolah), proses yang dimaksud meliputi proses
belajar mengajar, manajemen sekolah, dan kepemimpinan sekolah.
Output merupakan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang
dihasilkan dari proses pendidikan di sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari
kualitas, efektivitas, produktivitas, efisiensi, dan inovasi dari sekolah.
Khusus yang berkaitan dengan kualitas dapat dijelaskan bahwa output sekolah
dikatakan berkualitas tinggi jika prestasi sekolah, khususnya prestasi belajar
peserta didik, menunjukkan pencapaian yang tinggi. Prestasi dapat dibedakan
menjadi prestasi akademik (ulangan umum, UAN, lomba karya ilmiah, dan
lomba-lomba akademik lainnya) dan prestasi non-akademik (IMTAQ, karakter/kepribadian,
keolahragaan, keseniaan, keterampilan vokasional, kepramukaan, dsb.).
Outcome adalah dampak tamatan setelah kurun waktu agak lama. Outcome pendidikan meliputi
kesempatan melanjutkan sekolah, kesempatan kerja, pengembangan diri, dan
pengembangan sosial dan ekonomi masyarakat. Untuk mengetahui outcome, sekolah
harus melakukan studi penelusuran tamatan.
Kerangka
sekolah sebagai sistem dapat dilihat pada Tabel 1 dan Diagram 1 berikut. Jika
sekolah ingin melakukan analisis sekolah, yaitu analisis SWOT (strength,
weakness, opportunity, and threat), maka dimulai dari outcome dan berakhir pada
konteks. Jika sekolah ingin melakukan langkah-langkah pemecahan persoalan atau
penyiapan sekolah, arahnya terbalik, yaitu dimulai dari konteks dan berakhir
pada outcomes. Cara berpikir demikian adalah cara berpikir berurutan dengan
menggunakan kerangka pikir sistem.
|
|
|
|
|
1. Tuntutan pengembangan diri dan peluang tamatan
2. Dukungan pemerintah dan masyarakat
3. Kebijakan pemerintahan
4. Landasan hukum
5. Kemajuan ipteks
6. Nilai dan harapan masyarakat
7. Tuntutan otonomi
8. Tuntutan globalisasi
|
|
|
|
1. Visi, misi, tujuan
2. Kurikulum
3. Ketenagaan
4. Peserta didik
5. Sarana dan Prasarana
6. Pembiayaan
7. Regulasi sekolah
8. Organisasi
9. Administrasi
10. Peran serta masyarakat
11. Budaya sekolah
|
|
|
|
1. Proses Belajar Mengajar
2. Manajemen
3. Kepemimpinan
|
|
|
|
1. Prestasi akademik
2. Prestasi non-akademik
3. Angka mengulang
4. Angka putus sekolah
|
|
|
|
1. Kesempatan pendidikan
2. Kesempatan kerja
3. Pengembangan dir
4. Peserta didik
|
|
Kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa, yang
menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentutan atau yang
tersirat. Dalam konteks pendidikan, kualitas yang dimaksud adalah kualitas
output sekolah yang akademik dan non akademik. Mutu output sekolah dipengaruhi
oleh tingkat kesiapan input dan proses belajar mengajar.
Produktivitas adalah perbandingan
antara output sekolah dibanding input sekolah. Baik input maupun output sekolah
dalam bentuk kuantitas. Kuantitas input sekolah, misalnya jumlah guru, modal
sekolah, bahan, dan energi. Kuantitas output sekolah misalnya jumlah siswa yang
lulus sekolah tiap tahunnya. Contoh produktivitas, misalnya, jika tahun ini di
sebuah sekolah lebih banyak meluluskan siswanya daripada tahun lalu dengan input
yang sama (jumlah guru, fasilitas, dsb.), maka dapat dikatakan bahwa tahun ini
sekolah tersebut lebih produktif daripada tahun sebelumnya.
Efektivitas adalah ukuran yang
menyatakan sejauh mana tujuan (kualitas, kuantitas dan waktu) telah dicapai.
Dalam bentuk persamaan, efektivitas sama dengan hasil nyata dibagi hasil yang
diharapkan. Misalnya, NUAN idealnya berjumlah 30, namun NUAN yang diperoleh
siswa hanya 18, maka efektivitasnya adalah 18:30 = 60%.
Efisiensi dapat
diklasifikasikan menjadi dua yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal.
Efisiensi internal menunjuk kepada hubungan antara output sekolah (pencapaian
prestasi belajar) dan input (sumber daya) yang digunakan untuk memproses/menghasilkan
output sekolah. Efisiensi internal sekolah biasanya diukur dengan
biaya-efektivitas. Efisiensi eksternal adalah hubungan antara biaya yang
digunakan untuk menghasilkan tamatan dan keuntungan kumulatif (individual,
sosial, ekonomi, dan non-ekonomi) yang didapat setelah pada kurun waktu yang
panjang di luar sekolah. Analisis biaya manfaat merupakan alat utama untuk
mengukur efisiensi eksternal.
Pendekatan
sistem harus digunakan sebagai pemandu bagi sekolah-sekolah yang mengembangkan
pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris. Oleh
karena itu, warga sekolah harus memahami benar bahwa ”sekolah
adalah sebagai sistem” yang memiliki komponen-komponen sekolah
yang utuh dan benar. Utuh dalam arti bahwa komponen-komponen sekolah harus
lengkap diperhatikan/diintegrasikan untuk menyelenggarakan pendidikan Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris. Benar dalam arti bahwa
komponen-komponen sekolah diletakkan pada tempatnya sesuai dengan hirarki
tingkat kepentingannya.
D. Fokus Pengembangan pada Sekolah Penyelenggara Pembelajaran Matematika dan Ilmu
dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam Bahasa Inggris
|
Untuk
mencapai tujuan pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris, sekolah perlu
memfokuskan kegiatannya pada aspek-aspek berikut.
1. Pengembangan Materi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam Bahasa
Inggris
|
Materi
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris perlu dikembangkan
oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi yang ada di
sekolah dengan memperhatikan perkembangan internasional. Oleh karena itu,
sekolah yang melaksanakan program ini disarankan untuk membangun jaringan baik
secara nasional maupun internasional dalam kerangka untuk memutakhirkan
materi-materi yang dimaksud. Misalnya, melakukan kerjasama dengan fakultas MIPA
di perguruan tinggi terdekat sebagai salah satu upaya untuk memperoleh informasi/sumber
terkini tentang literatur/buku teks MIPA. Hal yang sama dapat ditempuh dengan
melakukan kerjasama dengan jurusan bahasa Inggris, dan lembaga kursus bahasa
inggris yang berkompeten untuk peningkatan kemampuan berbahasa Inggris.
Perolehan
sumber-sumber belajar yang terkini dapat dengan mudah diakses melalui internet.
Oleh karena itu, adanya jaringan internet di sekolah merupakan fasilitas yang
memegang peranan penting dalam pencapaian keberhasilan pengembangan pembelajaran
MIPA di sekolah tersebut.
Selain itu,
penyediaan referensi/textbook berbahasa Inggris akan sangat mendukung dan
membantu baik bagi guru dan siswa dalam memahami terminologi matematika dan IPA
dalam bahasa Inggris, yang biasanya tidak dengan mudah dapat dijembatani oleh
guru/dosen/nara sumber yang berlatar belakang bidang bahasa Inggris.
2. Pengembangan Media Pembelajaran
|
Mengingat
pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris adalah
hal baru dan memiliki taraf kesulitan yang relatif lebih tinggi dibandingkan
dengan pembelajaran reguler yang menggunakan medium bahasa Indonesia, maka
diperlukan media pembelajaran yang dapat memudahkan peserta didik untuk memahami
materi pembelajaran, terutama konsep yang abstrak. Media pembelajaran yang
dimaksud dapat menggunakan alat peraga yang lebih aktual, konkret, dan nyata,
selain menggunakan multimedia elektronika yang sarat animasinya, bahkan jika
memungkinkan menghadirkan benda aslinya jika benda yang dimaksud dengan mudah
dapat ditemukan dan memungkinkan untuk digunakan sebagai media pembelajaran di
kelas.
3. Peningkatan Kompetensi Guru Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam
Bahasa Inggris
|
Guru-guru
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang membina program ini harus ditingkatkan
kemampuan berbahasa Inggrisnya secara intensif dan terus menerus mengingat
mereka umumnya belum disiapkan untuk mengajarkan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam dalam bahasa Inggris. Kursus-kursus, tutorial dari guru bahasa Inggris pada
sekolah yang sama atau dari lembaga-lembaga pendidikan lainnya, pembiasaan
berbahasa Inggris setiap hari di sekolah, English area, pengadaan buku-buku
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris, dan cara-cara lain
yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan guru dapat diupayakan dalam kerangka
untuk mendukung peningkatan kemampuan guru dalam berbahasa Inggris. Idealnya,
kemampuan berbahasa Inggris guru MIPA dengan nilai TOEFL minimal 500, merupakan
hal yang dipersyaratkan agar pembelajaran dalam bahasa Inggris dapat mencapai
hasil yang diharapkan.
Selain itu,
penguasaan guru MIPA dalam terminologi MIPA dalam bahasa Inggris sangat
diperlukan. Oleh karena itu kursus-kursus English for Mathematics and Science
sangat diperlukan dalam mewujudkan tujuan tersebut.
4. Peningkatan Kemampuan Guru MIPA dan guru Bahasa Inggris dalam
Menggunakan dan Memanfaatkan Teknologi Informasi
|
Kemampuan
ini sangat diperlukan dalam mengembangan media presentasi sederhana maupun
tingkat lanjut dalam bentuk animasi. Selain itu, keterampilan dalam mengakses
internet juga diperlukan. Dengan demikian, diharapkan materi ajar dan media
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik di sekolah pelaksana
program akan dapat dikembangkan dengan mudah. Selain itu memudahkan peserta
didik dalam memahami materi pembelajaran.
5. Peningkatan pengetahuan Guru Bahasa Inggris dalam Terminologi MIPA
dalam Bahasa Inggris
|
Pemahaman
siswa tentang terminologi MIPA dalam bahasa Inggris siswa memegang peranan
penting dalam menentukan keberhasilan program.
Oleh
karena itu perlu adanya suatu program tambahan untuk memantapkan hal tersebut.
Salah satu yang dapat ditempuh adalah dengan memperkenalkan terminologi MIPA
yang akan diajarkan melalui mata pelajaran bahasa Inggris. Namun demikian, hal
ini bisa dilaksanakan jika guru-guru bahasa Inggris memiliki kemampuan yang
memadai dalam terminologi MIPA dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, guru
bahasa Inggris perlu mempelajari terminologi MIPA dalam bahasa Inggris.
Pengetahuan terminologi MIPA dalam bahasa Inggris tersebut tidak hanya
diperlukan ketika guru bahasa Inggris mengajar, tetapi juga ketika yang
bersangkutan mendampingi guru MIPA mempersiapkan, mengajar, dan mengevaluasi
pembelajaran melalui team teaching.
6. Pembiasaan Berbahasa Inggris di Sekolah
|
Para siswa
dan guru Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris agar
dibiasakan berkomunikasi dalam bahasa Inggris setiap hari di sekolah, baik
secara lisan maupun tertulis. Selain itu, misalnya kewajiban berbahasa inggris
pada hari yang sudah ditentukan (English Day) minimal satu hari dalam satu
minggu, dengan dipantau oleh guru. Termasuk mengadakan berbagai jenis kompetisi
dalam bahasa Inggris minimal satu kali dalam satu semester. Hal lainnya yang
dapat dilakukan adalah pemberian tugas kepada siswa berupa projek tertentu dalam
mata pelajaran MIPA secara berkelompok, dan di akhir semester siswa melakukan
presentasi hasil projeknya sebagai sarana lomba untuk menentukan pemenangnya (semacam
lomba Karya Ilmiah Remaja/KIR dalam bahasa Inggris). Adanya program English Camp
yang dilakukan secara reguler, misalnya sekali dalam satu semester, yang
mewajibkan digunakannya bahasa Inggris sebagai medium komunikasi selama kegiatan
juga akan membantu peningkatan pembiasaan berbahasa Inggris.
Cara lain
yang dapat dilakukan adalah mengundang nara sumber dalam bidang MIPA yang
memiliki kemampuan yang bagus dalam berbahasa Inggris sebagai guest lecturer di
sekolah. Apabila hal ini dilakukan secara reguler dan dikelola sendiri oleh
siswa yang mengikuti program ini, kegiatan ini menjadi lebih ”bermakna” bagi
siswa. Kebiasaan-kebiasaan ini akan membangun karakter mereka dalam berbahasa
Inggris, selain juga akan menciptakan suasana akademik dan sosial sekolah yang
mendukung pengembangan program sehingga tujuan pembelajaran Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris akan dapat berjalan dengan lebih baik.
Adanya tes
TOEFL secara reguler untuk seluruh warga sekolah, terutama bagi mereka yang
terlibat langsung dalam implementasi program di sekolah akan mendorong iklim
yang kondusif untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggris warga sekolah dalam
mengimplementasikan program di sekolah.
7. In House Training ( IHT )
|
Merupakan
bentuk pendampingan secara reguler oleh tenaga yang kompeten di bidangnya
terhadap guru yang melaksanakan program pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya pendampingan secara reguler ini, sangat
membantu guru dalam mengatasi masalah mereka sehari-hari dalam melaksanakan
pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris mulai dari tahap persiapan hingga
pembelajaran di kelas. Pendamping yang kompeten adalah mereka yang mengusai
tidak hanya substansi matematika dan IPA tetapi juga mampu berkomunikasi dalam
bahasa Inggris dengan baik termasuk berkompeten dalam pengembangan bahan ajar,
media pembelajaran, penerapan berbagai pendekatan/metode/strategi pembelajaran
yang sesuai dengan karakteristik konsep/topik yang akan diajarkan dan
prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif, efisien, menyenangkan, inovatif, dan
mendidik.
Selain itu,
selama proses pendampingan, penelitian tindakan kelas (Classroom Action
Research) sangat disarankan untuk dilakukan. Dengan demikian, upaya untuk
mendapatkan strategi pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris yang lebih baik dan
sesuai dengan karakteristik peserta didik di sekolah dan topik/konsep yang akan
diajarkan akan dapat ditemukan.
8. Forum Guru MIPA dan Guru Bahasa Inggris
|
Forum ini
diharapkan merupakan wahana yang dapat digunakan untuk berbagi pengalaman antar
guru dalam mengatasi berbagai kendala dan kesulitan selama mengimplementasikan
program ini di sekolah. Disamping itu, sebagai wahana bagi mereka untuk saling
mengisi dan menguatkan kemampuan mereka dalam mengimplementasikan pembelajaran.
Termasuk dalam program ini, misalnya optimalisasi MGMP Guru MIPA bilingual di
sekolah maupun antar sekolah di rayon atau daerah tertentu.
9. Menerapkan MBS dan Kepemimpinan Sekolah secara KOnsisten
|
Pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris akan
berjalan dengan lancar apabila didukung oleh manajemen dan kepemimpinan sekolah
yang tangguh. Model manajemen berbasis sekolah dan kepemimpinan transformatif
perlu dilaksanakan secara konsisten karena model-model tersebut telah teruji
ketangguhannya.
E. Model - model Pembelajaran MIPA dalam Bahasa Inggris
|
Implementasi pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa
Inggris harus menghindari dihasilkannya lulusan dengan bahasa Inggris kelas 2
karena jeleknya tatabahasa dan ucapan. Perlu diperhatikan beberapa hal agar
program pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris
dapat diimplementasikan dengan tingkat pencapaian yang tinggi dalam kompetensi
bidang studi maupun kompetensi dalam bahasa Inggris. Tingkat pencapaian
kompetensi yang tinggi dalam bahasa Inggris ditandai dengan keterampilan
berbahasa Inggris yang lancar dan akurat, baik dari segi tatabahasa maupun
ucapan.
Program
semacam ini disebut program imersi (immersion program). Di beberapa negara yang
telah mengimplementasikan program semacam ini (misalnya Canada, Australia,
Hongaria, Finlandia, dan Hongkong) dengan guru yang kompetensi dalam bahasa
target (inggris) sangat tinggi (bahkan dengan penutur asli) dan sarana pendukung
yang memadai pada umumnya melaporkan hasil bahwa:
1. Capaian kompetensi dalam bidang studi di kelas tersebut sebanding dengan
kelas reguler.
2. Penguasaan yang tinggi dan seimbang dalam bahasa target (bahasa yang hendak
dikuasai bahasa inggris) dan bidang studi biasanya sulit dicapai secara
bersamaan. Artinya, pencapaian yang tinggi dalam satu aspek cenderung dibarengi
oleh pencapaian yang agak rendah dalam aspek lainnya. Apabila pencapaian
kompetensi dalam bahasa target tinggi, pencapaian kompetensi dalam bidang studi
tidak setinggi pencapaiannya dalam bahasa target atau sebaliknya.
3. Penguasaan bahasa lulusan/siswa dalam bahasa target jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan lulusan/siswa yang mengikuti kelas reguler, tetapi tidak
sepadan dengan kemampuan penutur asli karena diwarnai oleh sejumlah kesalahan
tatabahasa dan ucapan.
Agar
pencapaian kompetensi dalam bidang studi dan bahasa Inggris tinggi dan seimbang,
perlu upaya pengembangan program-program pendukung antara lain:
1. Penciptaan suasana akademik dan sosial yang mendukung
2. Penyelenggaraan Bridging Course bahasa Inggris
3. Penyediaan Self-Access Learning Centre
4. Pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang mendorong atau memfasilitasi penggunaan
bahasa Inggris di sekolah secara efektif
Selain itu
perlu dikembangkan model pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam
bahasa Inggris yang sesuai dengan ciri dan karakter sekolah. Berikut ini
diuraikan beberapa contoh model pembelajaran dimaksud.
Model
pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang baik adalah model yang
memfasilitasi pencapaian kompetensi yang tinggi dalam bidang studi dan dalam
bahasa Inggris (subject matter and language) dan keduanya diberi perhatian
secara proporsional. Focus on language sangat penting untuk menghindarkan siswa
dari fosilisasi, yaitu pemerolehan bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa
Inggris sebagaimana digunakan oleh penutur asli bahasa Inggris. Berikut adalah
contoh model penyelenggaraan pembelajaran.
1. Terpisah (parallel): perkembangan bahasa siswa difasilitasi melalui
kegiatan penunjang di luar pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
dalam Bahasa Inggris yang diikuti siswa di sekolah.
a. Siswa menerima pelajaran tambahan berupa English for Mathematics and
Science yang dilakukan oleh guru bahasa Inggris dan/atau guru MIPA. Materi
pelajaran tambahan ini didasarkan pada kebutuhan dan urutan penyajian tema-tema
pelajaran yang ada pada pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris. Idealnya sebelum
siswa mempelajari pokok bahasan tertentu, siswa sudah diperkenalkan dengan
bahasa (kosa kata, tata bahasa, ekspresi, dsb.) yang akan dipergunakan dalam
mempelajari pokok bahasan tersebut.
b. Model ini cocok bagi sekolah yang guru MIPA-nya memiliki pengetahuan
kebahasaan yang terbatas dan team-teaching antara guru bahasa Inggris dan guru
MIPA tidak dapat berjalan dengan baik.
c. Dalam model ini pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris berlangsung dengan
tahapan-tahapan pembelajaran seperti pada pembelajaran MIPA pada umumnya. d.
Model ini agak mahal dan memerlukan waktu cukup banyak tetapi efektif dalam
pencapaian tujuan (peningkatan kemahiran berbahasa Inggris).
2. Terpadu (integrated): perkembangan bahasa siswa difasilitasi secara
terpadu dalam pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa
Inggris. Artinya, siswa menerima materi English for Mathematics and Science
bersamaan ketika mereka menerima pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
dalam bahasa Inggris. Model ini cocok/sesuai untuk guru MIPA dengan pengetahuan
kebahasaan tinggi. Diagram 2 berikut ini menggambarkan apa yang dilakukan oleh
guru dan siswa pada setiap tahapan ketika mereka mengikuti pembelajaran. Secara
umum, pembelajaran terbagi menjadi tiga tahap utama, yaitu tahap persiapan
(preparation), tahap pembelajaran (the lesson), dan tahap penguatan/pengayaan
(reinforcement/ enrichment).
( Dikutip dari : Panduan Pelaksanaan Pembelajaran MIPA dalam Bahasa Inggris; Direktorat PSMP )